Bursa Piala Dunia Kenangan Maulwi Saelan Di Semifinal Olimpiade 1956

Bursa Piala Dunia Kenangan Maulwi Saelan Di Semifinal Olimpiade 1956

Bursa Piala Dunia Kenangan Maulwi Saelan Di Semifinal Olimpiade 1956 – Walaupun sama sekali tidak bersentuhan dengan sepakbola sesudah dia pensiun dan menjadi ketua umum PSSI pada periode 1964 silam, namun kenangan Saelan tidak pernah luntur. Masa-masa pahit saat dia dibui selama lima tahun karena mendapat tuduhan bahwa dia terlibat G30 S PKI pun tidak cukup kuat untuk menghapus kenangan manis dengan pasukan Garuda pada masa itu.

Maulwi Saelan lahir di Makassar pada 85 tahun silam. Dia pun masih menyimpan rapi semua kenangan dan dokumentasi ketika dirinya membela timnas. Dia nampak sangat bahagia saat menceritakan kisah sukses timnas yang berhasil mencapai semifinal Olimpiade tahun 1956 di Melbourne.

Saelan juga masih menyimpan dengan rapi koleksi foto hitam putih ketika dirinya bermain di timnas. Ada juga buku dengan sampul kain batik dan dengan logo garuda yang berisi skuat timnas ditambah dengan rencana uji coba satu tahun yang akan dilakoni tim bentukan PSSI yang dipimpin oleh Maladi tersebut. Saelan juga pernah menjabat sebagai wakil komandan Tjakrabirawa. Dia juga mempunyai koleksi catatan tangan pelatih timnas pada saat itu yaitu Toni Pogacnik dari Yugoslavia.

Pada saat itu Saelan juga sekaligus menjadi kapten tim. Menurutnya, waktu itu timnas bertekad tidak akan menyerah walaupun melawan timnas Rusia yang jauh lebih maju daripada sepakbola Indonesia. Saelan juga menuturkan bahwa karena dia adalah kapten timnas, maka dia harus mampu memimpin rekan-rekannya di dalam serta di luar lapangan. Ketika laga, peran pemainlah yang sangat besar, untuk itu dia menyimpan semua catatan pelatih.

Saelan dan kawan-kawan sukses menahan imbang Beruang Merah dengan skor 0-0 saat waktu normal. Timnas juga bisa menahan Rusia pada babak perpanjangan waktu.  Lalu, kedua tim dijadwalkan untuk bertemu kembali 36 jam kemudian. Namun sayang, timnas harus kandas dari Rusia dengan skor 0-4.

Lalu empat tahun setelah Olimpiade tersebut, Saelan akhirnya memutuskan untuk pensiun. Tapi, kepemimpinan dirinya di timnas tidak dilupakan begitu saja oleh Presiden. Pada waktu itu Indonesia masih dipimpin oleh Presiden Soekarno. Ketika PSSI mencari ketua umum yang baru pada tahun 1964, Presiden Sukarno langsung menunjuk Saelan. Saelan pun tidak bisa menolak. Dengan keinginan untuk membuat timnas tidak sekedar numpang lewat di Olimpiade serta berhasil menjadi juara Asian Games dan bermain di Piala Dunia, akhirnya Saelan pun berhasil menciptakan kompetisi usia muda yaitu Piala Suratin.

Keinginan Saelan untuk melihat timnas Indonesia berjaya di Olimpiade serta Piala Dunia masih belum terkabul hingga kini. Bahkan Saelan menilai jika saat ini timnas semakin minim uji coba yang bermutu tinggi. Padahal kini bukanlah persoalan yang sulit untuk pergi ke Eropa. Saelan pun berharap agar harapan tersebut bisa terwujud Bursa Piala Dunia.